Jumat, 10 Januari 2020


Mulla Sandra

Nama lengkap nya adalah Sadr al-Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya al-Qawami al-Shirazi. Namun, ia lebih di kenal dengan nama Mulla Sandra.Ia di lahirkan di Shiraz, Persia ( sekarang Iran ). Ia dari sebuah kelluarga terpandang. Sandra adalah seorang pemikir besar dalam islam sekaligus satu di antara  empat pendiri madzhab filsafat islam,  al-hikmah  al-muta’aliyah ( teosofi transendental ).  Sebelum kita mengulas lebih jauh mengenai filsafat ini, marilah kita membicarakan faktor yang melatarbelakangi lahir nya seorang pemikir  besar abad ke-17 ini.
            Pada mulanya sebelum islam masuk, Persia merupakan negara yang tidak di masuki kristenisasi.Meskipun agama yang dianut mayoritas adalah zoroaster dan Majusi, namun proses hellenisasi telah memasuki dunia mereka lebih awal, terutama di daerah Jundisapur sebagai pusat hellenisasi. Di sinilah letak perbedaan antara Persia dengan negara-negara jajahan Kristen lain, di mana negara-negara lain mendapatkan pengaruh hellenisasi setelah menerima Kristenissi.
            Kondisi tersebut membuat nya cepat menguasi beragam ilmu, baik bahasa arab, maupun Persia, al-Quran, hadits, serta bidang ilmu  lain nya, meskipun dengan demikian, hal tersebut tidak membuat dirinya lantas puas, melainkan ia meninggalkan kota kelahiran nya menuju Isfahan. Di sana ia mendapatkan bimbingan dari dua orang guru.Guru pertamanya adalah Syekh Baha al-Din al-Amili biassa disebut Syekh Baha’i yang terkenal sebagai seorang teolog, sufi, ahli hukum, filsuf, serta penyair. Ilmu-ilmu keagamaan ia serap dari guru pertamanya itu. Sedang guru keduanya adalah Sayid Muhammad Baqir, dari nya ia menyerap ilmu-ilmu intelektual.
            Selanjutnya, ia meninggalkan kota Isfahan untuk menuju desa Kahak. Sebelum nya di jelaskan bahwa ia begitu mengandalkan kemampuan intelektualnya, namun ia menjadi tersadar bahwa berserah diri kepada Allah Swt dengan jiwa yang suci dan ikhlas merupakan jalan yang seharus nya ia tempuh pula.  Adapun karya-karya nya seperti: Al-Hikmah al-Mutaaliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arbaab, Al-Mabda wa al-Maad ( berhubungan dengan metafisika ).
            Contoh perilaku spiritualnya seperti menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki selama tujuh kali. Hal tersebut telah memberinya pencerahan-penverahan dalam menekuni dunianya. Namun, sekembalinya dari tanah suci yang ketujuh kali nya , ia menderita sakit di Basrah. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Basrah pada 1640 M. Meski telah tiada, namanya tetap hidup hingga kini melalui karya-karya tulisnya yang menarik perhatian para cerdik cendekia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Qoutes   ·          Jangan menyedihkan kelamnya masa lalu. Jangan habiskan usia untuk menangisi sejarah. Adapun tugas terbesar kita ad...