Mulla
Sandra
Nama
lengkap nya adalah Sadr al-Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya al-Qawami
al-Shirazi. Namun, ia lebih di kenal dengan nama Mulla Sandra.Ia di lahirkan di
Shiraz, Persia ( sekarang Iran ). Ia dari sebuah kelluarga terpandang. Sandra
adalah seorang pemikir besar dalam islam sekaligus satu di antara empat pendiri madzhab filsafat islam, al-hikmah
al-muta’aliyah ( teosofi transendental ). Sebelum kita mengulas lebih jauh mengenai
filsafat ini, marilah kita membicarakan faktor yang melatarbelakangi lahir nya
seorang pemikir besar abad ke-17 ini.
Pada mulanya sebelum islam masuk,
Persia merupakan negara yang tidak di masuki kristenisasi.Meskipun agama yang
dianut mayoritas adalah zoroaster dan Majusi, namun proses hellenisasi telah memasuki dunia mereka lebih awal, terutama di daerah Jundisapur sebagai
pusat hellenisasi. Di sinilah letak perbedaan antara Persia dengan
negara-negara jajahan Kristen lain, di mana negara-negara lain mendapatkan
pengaruh hellenisasi setelah menerima Kristenissi.
Kondisi tersebut membuat nya cepat
menguasi beragam ilmu, baik bahasa arab, maupun Persia, al-Quran, hadits, serta
bidang ilmu lain nya, meskipun dengan
demikian, hal tersebut tidak membuat dirinya lantas puas, melainkan ia
meninggalkan kota kelahiran nya menuju Isfahan. Di sana ia mendapatkan
bimbingan dari dua orang guru.Guru pertamanya adalah Syekh Baha al-Din al-Amili
biassa disebut Syekh Baha’i yang terkenal sebagai seorang teolog, sufi, ahli
hukum, filsuf, serta penyair. Ilmu-ilmu keagamaan ia serap dari guru pertamanya
itu. Sedang guru keduanya adalah Sayid Muhammad Baqir, dari nya ia menyerap
ilmu-ilmu intelektual.
Selanjutnya, ia meninggalkan kota
Isfahan untuk menuju desa Kahak. Sebelum nya di jelaskan bahwa ia begitu
mengandalkan kemampuan intelektualnya, namun ia menjadi tersadar bahwa berserah
diri kepada Allah Swt dengan jiwa yang suci dan ikhlas merupakan jalan yang
seharus nya ia tempuh pula. Adapun
karya-karya nya seperti: Al-Hikmah al-Mutaaliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah
al-Arbaab, Al-Mabda wa al-Maad ( berhubungan dengan metafisika ).
Contoh perilaku spiritualnya seperti
menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki selama tujuh kali. Hal tersebut
telah memberinya pencerahan-penverahan dalam menekuni dunianya. Namun,
sekembalinya dari tanah suci yang ketujuh kali nya , ia menderita sakit di
Basrah. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Basrah pada 1640 M. Meski telah
tiada, namanya tetap hidup hingga kini melalui karya-karya tulisnya yang
menarik perhatian para cerdik cendekia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar